21 August 2010

Thread yang membuat saya menangis

Adakah kaum muslimin dan muslimah yang tak mengenal sosok Fathimah binti Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam? Rasanya tak mungkin! Beliau radiyallahu’anha satu-satunya putri Rasulullah shalallahu alaihi wassalam yang hidup mendampingi beliau hingga wafatnya beliau ke Rafiqil a’la. Fathimah az-Zahra radiyallahu’anha adalah ratu bagi para wanita di surga (Sayyidah nisa ahlil jannah). Pemahaman beliau tentang arti jilbab yang sesungguhnya sangat layak untuk disimak dan direnungi oleh para muslimah yang sangat merindukan surga dan keridhaan RabbNya. Sudah sempurnakah kita menutup aurat kita seperti apa yang difahami Shahabiyah?

Wahai saudariku muslimah yang merindukan surga Firdaus al-A’la…Shahabiyah yang mulia ini memandang buruk terhadap apa yang di lakukan wanita terhadap pakaian yang mereka kenakan yang masih menampakkan gambaran bentuk tubuhnya. Apa yang beliau tidak sukai itu beliau sampaikan kepada Asma radiayallahu’anha sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh Ummu Ja’far bahwasanya Fatimah binti Rasulullah shalallahu alaihi wassalam berkata:

Quote:
“Wahai Asma’! Sesungguhnya aku memandang buruk apa yang dilakukan oleh kaum wanita yang mengenakan baju yang dapat menggambarkan tubuhnya.” Asma’ berkata : ‘”Wahai putri Rasulullah maukah kuperlihatkan kepadamu sesuatu yang pernah aku lihat di negeri Habasyah?” Lalu Asma’ membawakan beberapa pelepah daun kurma yang masih basah, kemudian ia bentuk menjadi pakaian lantas dipakai. Fatimah pun berkomentar: “Betapa baiknya dan betapa eloknya baju ini, sehingga wanita dapat dikenali (dibedakan) dari laki-laki dengan pakaian itu. Jika aku nanti sudah mati, maka mandikanlah aku wahai Asma’ bersama Ali (dengan pakaian penutup seperti itu ) dan jangan ada seorangpun yang menengokku!” Tatkala Fatimah meninggal dunia, maka Ali bersama Asma’ yang memandikannya sebagaimana yang dipesankan. ”
Syaikh Albani rahimahullah berkata : "Perhatikanlah sikap Fatimah radiyallahu anha yang merupakan bagian dari tulang rusuk Nabi shalallahu alaihi wassalam bagaimana ia memandang buruk bilamana sebuah pakaian itu dapat mensifati atau menggambarkan tubuh seorang wanita meskipun sudah mati, apalagi jika masih hidup, tentunya jauh lebih buruk. Oleh karena itu hendaklah kaum muslimah zaman ini merenungkan hal ini, terutama kaum muslimah yang masih mengenakan pakaian yang sempit dan ketat yang dapat menggambarkan bulatnya buah dada, pinggang, betis dan anggota badan mereka yang lain. Selanjutnya hendaklah mereka beristighfar kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya."

Wahai ukhti muslimah yang dirahmati Allah,…benarlah apa yang dikatakan oleh Syaikh Albani rahimahullah. Fitnah yang melanda kaum muslimah begitu deras dan hebat.Jika Fathimah radiyallahu’ anha saja tidak rela jasadnya tergambar bentuk tubuhnya tentulah dapat kita fahami bagaimana beliau mengenakan jilbab di masa hidupnya. Karena beliau sangat memahami perintah jilbab dengan pemahaman yang benar dan sempurna. Pemahaman beliau yang sangat mendalam ini jelas tersirat dari ketidaksukaannya yang beliau pandang sebagai suatu keburukan apabila seorang wanita memakai pakaian yang dapat menggambarkan lekuk tubuhnya.

Lalu bandingkanlah dengan apa yang dikenakan oleh sebagian kaum muslimah dewasa ini sangat jauh dari apa yang disyariatkan oleh Rabb mereka. Jauh panggang dari api.Mereka menisbahkan pakaian wanita dengan kerudung ala kadarnya yang sekedar menutupi leher-leher mereka tidak sampai menutupi dada dengan nama pakaian islami atau jilbab. Dan ironisnya yang memakainyapun merasa bahwa apa yang mereka pakai itu sudah benar karena melihat para artis di TV mengenakan yang demikian itu jadilah pakaian trendy ini menyebar begitu cepat dan menjadi pakaian pilihan utama mereka. Bahkan tentu terkadang kita melihat saudari kita yang memakai busana muslimah yang justru menambah fitnah karena nampak jelasnya lekuk tubuh mereka dengan penutup kepala yang melilit di leher (sehingga jenjang atau tidaknya bentuk leher terlihat sangat jelas) dan hanya sampai di bagian pundak saja tidak sampai ke dada disambung dengan pakaian ketat yang menggambarkan bentuk payudara mereka kemudian celana ketat yang menambah jelas lekukan tubuh mereka. Ada juga yang memakai abaya (gamis/pakaian terusan) memilih ukuran yang ketat daripada ukuran besar dan lapang dengan alasan agar nampak cantik dan modis! Sebagian adapula yang memakai penutup kepala dengan menyanggul rambut-rambut mereka hingga ketika mereka berjalan dapat dilihat dengan jelas ikatan rambut tersebut, karena sangat kecilnya penutup kepala yang mereka pakai maka merekapun mengikat rambut tersebut agar tidak menyembul keluar. Bukankah apa yang mereka pakai itu semua justru yang semestinya mereka jauhi karena Rasulullah shalallahu alaihi wassalam telah bersabda :

Quote:
“Pada akhir ummatku nanti akan ada wanita-wanita yang berpakaian namun (hakekatnya) telanjang. Di atas kepala mereka seperti terdapat bongkol (punuk) onta. Kutuklah mereka karena sebenarnya mereka itu adalah kaum wanita yang terkutuk.”
Di dalam hadits lain terdapat tambahan :

Quote:
“Mereka tidak akan masuk surga dan juga tidak akan memperoleh baunya, padahal baunya surga itu dapat dicium dari perjalanan (jarak) sekian dan sekian.”
Kemudian lihatlah penjelasan dari Ibnu Abdil Barr rahimahullah ia berkata:

Quote:
“Yang dimaksud Nabi shalallahu alaihi wassalam adalah kaum wanita yang mengenakan pakaian yang tipis, yang dapat mensifati (menggambarkan) bentuk tubuhnya dan tidak dapat menutup atau menyembunyikannya. Mereka itu tetap berpakaian namanya, akan tetapi hakekatnya telanjang.”
Dari Ummu Alqamah bin Abu Alqamah bahwa ia berkata :

Quote:
“Saya pernah melihat Hafshah bin Abdurrahman bin Abu Bakar mengunjungi ‘Aisyah dengan mengenakan khimar(kerudung) tipis yang dapat menggambarkan pelipisnya, lalu ‘Aisyah pun tak berkenan melihatnya dan berkata : “Apakah kamu tidak tahu apa yang telah diturunkan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala dalam surat An Nuur?!” Kemudian ‘Aisyah mengambilkan khimar untuk dipakaikan kepadanya.
Syaikh Albani menjelaskan perkataan Aisyah radiyallahu anha : Apakah kamu tidak tahu tentang apa yang diturunkan oleh Allah dalam surat An-Nuur? Mengisyaratkan bahwa wanita yang menutupi tubuhnya dengan pakaian yang tipis pada hakikatnya ia belum menutupi tubuhnya dan juga belum melaksanakan firman Allah Subahnahu wa ta’ala yang ditunjukkan oleh Aisyah radiyallahu anha yaitu

Quote:
“Dan hendaklah kaum wanita menutupkan khimar/kerudung pada bagian dada mereka”
Tidakkah kita melihat perbedaan yang sangat jauh antara generasi Shahabiyah dengan kita? Mereka benar-benar menjadikan jilbab sebagai penutup tubuh dan aurat sebagai bentuk ketaatan pada perintahNya sedangkan kita justru sebaliknya menjadikan jilbab sebagai pembuka fitnah kecuali wanita-wanita yang dirahmati Allah. Jilbab yang difahami shahabiyah sebagai pakaian yang lapang (lebar) yang menutupi tubuh dari atas kepala hingga ujung kaki sedangkan kaum muslimah sekarang menganggap jilbab adalah secarik kain yang digunakan untuk menutupi rambut mereka saja sedangkan bagian-bagian lainnya mereka tutupi dengan bahan yang ala kadarnya yang tidak bisa dikatakan menutupi aurat apalagi menutupi lekuk tubuh mereka. Kepada Allahlah kita memohon pertolongan semoga kaum kita mau kembali kepada Rabb mereka dan berusaha untuk menunaikan apa yang diperintahkan Allah dan rasulNya secara sempurna dan menyeluruh. Sebagaimana firmanNya:

Quote:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu(Al-Baqarah :208).
Wallahu’alam bish-shawwab.

Artikel ini telah di cek oleh : Ustadz Muhammad Elvy Syam Lc.

Sumber : Fathimah Radiyallahu ‘anha Memahami Arti Jilbab yang Sesungguhnya [Muslim]
---------------------------------------------------------------------------------------------------------

Setelah membaca thread ini, hati saya tergetar. Dan saya menangis. Saya merasa jilbab yang saya kenakan belum sempurna. Saya merasa, takut kepada Allah. Saya merasa kecewa pada diri saya, dan semoga saja saya bisa menyempurnakan lagi jilbab saya, hanya untukmu Ya Rabb..

Saudariku, Apa yang Menghalangimu untuk Berjilbab? (Part 2)

Belajarlah Mencintai Jilbabmu

Duhai jilbab yang masih terlipat,
jadilah perisai dan tabir untuk diriku,
Mengukir simbol kehormatan dan kesucianku,
Menjelmalah laksana rumah berjalan untukku,
Dan kusematkan setangkai cinta untukmu…

Saudariku, jadikanlah jilbab seperti bagian dari dirimu, yang jika tanpanya, engkau merasa tidak sempurna. Jadikanlah dia penutup auratmu yang lebih baik dari sekedar pakaianmu. Jadikanlah dia sebagai lambang rasa malumu yang akan memancarkan wibawamu. Jadikanlah dia sebagai simbol kehormatan dan kesucianmu yang harus engkau jaga sebaik-baiknya. Maka dengan begitu, engkau akan mencintainya tanpa engkau sadari bahwa engkau telah mencintainya.

Yang Cantik yang Berjilbab

Tak ada ajaran yang lebih memuliakan wanita daripada Islam. Dalam Islam, wanita ditempatkan sebagai makhluk yang sangat mulia. Dan Islam sangat menjaga kehormatan juga kesucian seorang wanita. Namun, di belantara fitnah saat ini, wanita yang berkomitmen untuk menjaga kesucian dirinya karena masih menjadi kaum minoritas, seringkali mendapat cemoohan, sindiran, dan cibiran dari kaum mayoritas yang awam. Bahkan, ada yang menyebut dirinya sebagai kaum feminis yang –dengan tidak disadari oleh akal sehatnya– telah menjerumuskan kaum wanita kepada lembah kehinaan yang bersampul keadilan. Wal’iyyadzubillah.

Mereka berteriak-teriak di jalanan, di media-media massa dan elektronik mengenai kesetaraan gender, keadilan terhadap hak asasi manusia, dan harkat serta martabat kaum wanita. Mereka menginginkan para wanita mereka berpakaian seronok supaya diterima oleh masyarakat –yang rusak akalnya–, mereka mencoba mengafiliasi budaya barat dengan budaya timur agar mereka dinobatkan sebagai wanita modern, wanita masa kini, wanita fashionable. Ketahuilah olehmu wahai saudariku, mereka inilah setan berwujud manusia yang pernah disebutkan oleh Allah Ta’ala dalam firman-Nya, artinya,
“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap Nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu manusia…” (Qs. Al-An’aam: 112)
Allah Ta’ala memaksudkan perkataan yang indah dalam ayat di atas adalah perkataan yang sebenarnya bathil, tetapi pemiliknya menghiasi perkataan tersebut semampunya, kemudian melontarkannya kepada pendengaran orang-orang yang tertipu, sehingga akhirnya mereka terpedaya. (Terj. Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’ hal. 225)

Wanita shalihah yang kecantikannya ibarat mutiara yang terbenam dalam lumpur, masih menjadi kaum minor di kalangan masyarakat yang sudah mulai terpengaruh dengan eksistensi kaum liberal, permisif dan hedonis masa kini. Merekalah para wanita perindu Surga yang selalu nyaman tinggal di istananya. Merekalah para bidadari yang bersembunyi di balik tabir, kain longgar, dan lebarnya kerudung. Ketika orang mendatanginya, ia begitu khawatir jika keindahannya terlihat, dan dia tidak mungkin menjumpai tamunya dalam busana ala kadarnya yang bisa menampakkan ’simpanan berharga’nya. Mereka masih dan akan selalu menjadi misteri bagi para lelaki asing di luar sana. Tetapi mereka berubah bagai bidadari jika bertemu dengan kekasih hati yang telah menjadi suaminya.

Tahukah engkau siapa kekasih hati sang bidadari..?
Hanyalah lelaki shalih yang berani mendamba dirinya dan hanya lelaki shalih yang memiliki nyali mempersuntingnya sekaligus meminangnya menjadi belahan hati. Sedangkan lelaki hidung belang, miskin agama, dan kurang bermoral hanya akan mendekati ‘daging-daging’ yang dijual bebas di pasaran. Para wanita yang menjajakan dirinya di pinggir-pinggir jalan, di mal-mal, di tempat-tempat dugem, dan yang sejenisnya. Sekalipun mereka tidak merasa atau tidak berniat ‘menjual diri’ mereka, akan tetapi pada hakikatnya –jika mereka mau menyadari–, merekalah ‘mangsa’ empuk para serigala manusia yang kelaparan. Maka saudariku, manakah yang lebih engkau sukai, si cantik yang diobral murah? Ataukah si shalihah yang penuh rahasia?

Fenomena Jilbab Gaul, Berpakaian Tapi Telanjang

Belakangan ini, merebak trend jilbab gaul atau kudung gaul. Anggotanya mulai dari anak-anak remaja hingga ibu-ibu yang aktif dalam berbagai kegiatan pengajian. Kalau mereka ditanya, “Jilbab apa ini namanya?” Mereka akan menjawab dengan dengan pede-nya, “Jilbab gaul..!”

Jilbab gaul ini digandrungi karena alasan modisnya. Peminatnya adalah para wanita yang sudah terlanjur berjilbab tapi tetap ingin tampil modis dan trendi. Mereka ingin celana jeans, kaos-kaos ketat dan pakaian-pakaian minim mereka masih bisa terpakai, meskipun mereka sudah berjilbab. Walhasil, para desainer kawakan yang minim akan ilmu agama, mencoba mengotak-atik ketentuan jilbab syar’i dan mewarnainya sesuka hati dengan berkiblat kepada trend mode di wilayah barat. Mereka tidak segan-segan membawakan semboyan, “Jilbab modis dan syar’i” atau “Jilbab muslimah masa kini, modis dan trendi” atau semboyan-semboyan lain yang membuat kacau pikiran dan hati para gadis remaja.

Sekarang, mari kita simak peringatan yang pernah disampaikan oleh Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam yang artinya,
“Ada dua golongan penghuni Neraka yang belum pernah aku lihat sebelumnya, yaitu (1, -ed) suatu kaum yang membawa cambuk seperti ekor-ekor sapi betina yang mereka pakai untuk mencambuk manusia; (2,-ed) wanita-wanita yang berpakaian (namun) telanjang, yang kalau berjalan berlenggak-lenggok menggoyang-goyangkan kepalanya lagi durhaka (tidak ta’at), kepalanya seperti punuk-punuk unta yang meliuk-liuk. Mereka tidak akan masuk Surga dan tidak dapat mencium bau wanginya, padahal bau wanginya itu sudah tercium dari jarak sekian dan sekian.” (Hadits shahih. Riwayat Muslim (no. 2128) dan Ahmad (no. 8673). dari jalan Shahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)
Siapakah itu wanita-wanita yang berpakaian tapi telanjang?
Mereka adalah para wanita yang pakaiannya tipis, transparan dan ketat, sehingga kemolekan tubuhnya terlihat. Mereka berpakaian secara zhahir (nyata), namun sebenarnya mereka bertelanjang. Karena tidak ada bedanya ketika mereka berpakaian maupun ketika mereka tidak berpakaian, sebab pakaian yang mereka kenakan tidak berfungsi sebagaimana mestinya, yakni menutupi aurat. Dan mereka adalah wanita-wanita yang menyimpang dari keta’atan kepada Allah dalam hal menjaga kemaluan serta menutupi diri mereka dari para lelaki yang bukan mahramnya. (Terj. Al-Jannatu Na’iimuhaa wat Thariiqu Ilaiha Jahannamu Ahwaaluhaa wa Ahluhaa hal. 101-103)

Nah saudariku…
Tentu engkau tidak ingin menjadi salah satu wanita yang disebutkan dalam hadits di atas bukan? Tentu engkau ingin menjadi wanita penghuni Surga yang jumlahnya hanya sedikit itu bukan? Jadi jangan sampai kehabisan tempat. Persiapkanlah tempatmu di Surga nanti mulai dari sekarang!

Akhirnya…
Apabila Allah telah mengadakan suatu ketentuan, maka sudah pasti dalam ketentuan itu terkandung kebaikan yang amat besar. Maka dengan meragukan ketentuan dan perintah-Nya, engkau telah melewatkan banyak kebaikan yang seharusnya engkau dapatkan. Coba engkau simak firman Allah yang berbunyi,
“Dan tidaklah patut bagi laki-laki mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan mukminah, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menerapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguhlah dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata.” (Qs. Al-Ahzab: 36)
Saudariku…
Alasan apapun yang masih tersimpan dihatimu untuk tidak melaksanakan perintah berjilbab ini, janganlah engkau dengarkan dan engkau turuti. Semua itu hanyalah was-was setan yang dihembuskannya ke dalam hati-hati manusia, termasuk ke dalam hatimu. Bersegeralah menuju jalan ketakwaan, karena dengan begitu engkau akan melihat sosok lain yang jauh lebih baik dari dirimu pada hari ini. Engkau akan dengan segera mendapati rentetan kasih sayang Allah yang tidak pernah engkau sangka-sangka sebelumnya. Jadi, apa lagi yang kau tunggu? Bentangkanlah jilbabmu dan tutupilah cantikmu. Belajarlah menghargai dirimu sendiri dengan menjaga jilbabmu, maka dengan begitu orang lain pun akan ikut menghargai dirimu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, yang artinya,
“Barang siapa di antara kalian mampu membuat perlindungan diri dari api Neraka meskipun hanya dengan sebiji kurma, maka lakukanlah.” (Hadits shahih. Lihat Shahih Al-Jaami’ (no. 6017). Dari jalan ‘Adi bin Hatim radhiyallahu ‘anhu)
Demikianlah saudariku…
Ku susun risalah ini sebagai bentuk kasih sayang terhadapmu sembari terus berdo’a semoga Allah membuka hatimu untuk menerima ‘kado istimewa’ ini dengan ikhlas. Bukan karena apa maupun karena siapa, tapi karena semata-mata engkau mengharapkan keridhaan Allah ‘Azza wa Jalla terhadap dirimu. Semoga risalah yang hanya mengharap Wajah Allah ini dapat mengetuk pintu yang tertutup dan membangunkan nurani yang lama tertidur lelap, sehingga membangkitkan semangat untuk bersegera menuju ketaatan kepada Allah. Semoga Allah memasukkan dirimu, diriku, dan seluruh kaum muslimin yang berpegang teguh dalam tali agama Allah ke dalam golongan orang-orang yang ditunjuki jalan yang lurus.
Wallahul musta’an.

Penulis: Ummu Sufyan Rahmawaty Woly bintu Muhammad
Murojaah: Ust. Aris Munandar hafidzahullah
Maraji’ :
Ad’Daa wa Ad-Dawaa’ (Edisi Terjemah), Syaikhul Islam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, tahqiq Syaikh ‘Ali Hasan Al-Halabi, cet. Pustaka Imam asy-Syafi’i.
Ensiklopedi Fiqh Wanita (Terj. Fiqhus Sunnah lin Nisaa’), Abu Malik Kamal bin as-Sayyid Salim, cet. Pustaka Ibnu Katsir.
Jilbab, Tiada Lagi Alasan Untuk Tidak Mengenakannya (Terj. Banaatunaa wal Hijab), Dr. Amaani Zakariya ar-Ramaadi, cet. Pustaka At-Tibyan.
Jilbab Wanita Muslimah Menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah (Terj. Jilbab Al-Mar’atul Muslimah), Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, cet. Pustaka At-Tibyan.
Kudung Gaul, Abu Al-Ghifari, cet. Mujahid Press.
Menjadi Bidadari Cantik Ala Islam, Ummu Ahmad Rifqi, cet. Pustaka Imam Abu Hanifah.
Penyimpangan Kaum Wanita (Terj. Mukhalafat Taqa’u fiihaa an-Nisaa‘), Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman al-Jibrin, cet. Pustaka Darul Haq.
Saudariku, Apa yang Menghalangimu Untuk Berhijab? (Terj. Ila Ukhti Ghairil Muhajjabah Mal Mani’ Minal Hijab?), Syaikh Abdul Hamid al-Bilaly, cet. Pustaka Darul Haq.
Surga Neraka dan Calon Penghuninya Menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah (Terj. Al-Jannatu Na’iimuhaa wat Thariiqu Ilaiha Jahannamu Ahwaaluhaa wa Ahluhaa), Syaikh ‘Ali Hasan bin ‘Ali al-Halabi al-Atsari, cet. Pustaka Imam asy-Syafi’i.

Saudariku, Apa yang Menghalangimu untuk Berjilbab? (Part 1)

Saudariku…
Seorang mukmin dengan mukmin lain ibarat cermin. Bukan cermin yang memantulkan bayangan fisik, melainkan cermin yang menjadi refleksi akhlak dan tingkah laku. Kita dapat mengetahui dan melihat kekurangan kita dari saudara seagama kita. Cerminan baik dari saudara kita tentulah baik pula untuk kita ikuti. Sedangkan cerminan buruk dari saudara kita lebih pantas untuk kita tinggalkan dan jadikan pembelajaran untuk saling memperbaiki.

Saudariku…
Tentu engkau sudah mengetahui bahwa Islam mengajarkan kita untuk saling mencintai. Dan salah satu bukti cinta Islam kepada kita –kaum wanita– adalah perintah untuk berjilbab. Namun, kulihat engkau masih belum mengambil “kado istimewa” itu. Kudengar masih banyak alasan yang menginap di rongga-rongga pikiran dan hatimu setiap kali kutanya, “Kenapa jilbabmu masih belum kau pakai?” Padahal sudah banyak waktu kau luangkan untuk mengkaji ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang perintah jilbab. Sudah sekian judul buku engkau baca untuk memantapkan hatimu agar segera berjilbab. Juga ribuan surat cinta dari saudarimu yang menginginkan agar jilbabmu itu segera kau kenakan. Lalu kenapa, jilbabmu masih terlipat rapi di dalam lemari dan bukan terjulur untuk menutupi dirimu?

Mengapa Harus Berjilbab?
Mungkin aku harus kembali mengingatkanmu tentang alasan penting kenapa Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan perintah jilbab kepada kita –kaum Hawa- dan bukan kepada kaum Adam. Saudariku, jilbab adalah pakaian yang berfungsi untuk menutupi perhiasan dan keindahan dirimu, agar dia tidak dinikmati oleh sembarang orang. Ingatkah engkau ketika engkau membeli pakaian di pertokoan, mula-mula engkau melihatnya, memegangnya, mencobanya, lalu ketika kau jatuh cinta kepadanya, engkau akan meminta kepada pemilik toko untuk memberikanmu pakaian serupa yang masih baru dalam segel. Kenapa demikian? Karena engkau ingin mengenakan pakaian yang baru, bersih dan belum tersentuh oleh tangan-tangan orang lain. Jika demikian sikapmu pada pakaian yang hendak engkau beli, maka bagaimana sikapmu pada dirimu sendiri? Tentu engkau akan lebih memantapkan ’segel’nya, agar dia tetap ber’nilai jual’ tinggi, bukankah demikian? 

Saudariku, izinkan aku sedikit mengingatkanmu pada firman Rabb kita ‘Azza wa Jalla berikut ini,
“Katakanlah kepada wanita-wanita beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka, dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak daripadanya.’” (Qs. An-Nuur: 31)
Dan firman-Nya,
“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, ‘Hendaklah mereka menjulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenali, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Al-Ahzaab: 59)
Saudariku tercinta, Allah tidak semata-mata menurunkan perintah jilbab kepada kita tanpa ada hikmah dibalik semuanya. Allah telah mensyari’atkan jilbab atas kaum wanita, karena Allah Yang Maha Mengetahui menginginkan supaya kaum wanita mendapatkan kemuliaan dan kesucian di segala aspek kehidupan, baik dia adalah seorang anak, seorang ibu, seorang saudari, seorang bibi, atau pun sebagai seorang individu yang menjadi bagian dari masyarakat. Allah menjadikan jilbab sebagai perangkat untuk melindungi kita dari berbagai “virus” ganas yang merajalela di luar sana. Sebagaimana yang pernah disabdakan oleh Abul Qasim Muhammad bin ‘Abdullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang artinya,

“Wanita itu adalah aurat, jika ia keluar rumah, maka syaithan akan menghiasinya.” (Hadits shahih. Riwayat Tirmidzi (no. 1173), Ibnu Khuzaimah (III/95) dan ath-Thabrani dalam Mu’jamul Kabiir (no. 10115), dari Shahabat ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhuma)

Saudariku, berjilbab bukan hanya sebuah identitas bagimu untuk menunjukkan bahwa engkau adalah seorang muslimah. Tetapi jilbab adalah suatu bentuk ketaatanmu kepada Allah Ta’ala, selain shalat, puasa, dan ibadah lain yang telah engkau kerjakan. Jilbab juga merupakan konsekuensi nyata dari seorang wanita yang menyatakan bahwa dia telah beriman kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Selain itu, jilbab juga merupakan lambang kehormatan, kesucian, rasa malu, dan kecemburuan. Dan semua itu Allah jadikan baik untukmu. Tidakkah hatimu terketuk dengan kasih sayang Rabb kita yang tiada duanya ini?

“Aku Belum Berjilbab, Karena…”
1. “Hatiku masih belum mantap untuk berjilbab. Jika hatiku sudah mantap, aku akan segera berjilbab. Lagipula aku masih melaksanakan shalat, puasa dan semua perintah wajib kok..”
Wahai saudariku… Sadarkah engkau, siapa yang memerintahmu untuk mengenakan jilbab? Dia-lah Allah, Rabb-mu, Rabb seluruh manusia, Rabb alam semesta. Engkau telah melakukan berbagai perintah Allah yang berpangkal dari iman dan ketaatan, tetapi mengapa engkau beriman kepada sebagian ketetapan-Nya dan ingkar terhadap sebagian yang lain, padahal engkau mengetahui bahwa sumber dari semua perintah itu adalah satu, yakni Allah Subhanahu wa Ta’ala?

Seperti shalat dan amalan lain yang senantiasa engkau kerjakan, maka berjilbab pun adalah satu amalan yang seharusnya juga engkau perhatikan. Allah Ta’ala telah menurunkan perintah hijab kepada setiap wanita mukminah. Maka itu berarti bahwa hanya wanita-wanita yang memiliki iman yang ridha mengerjakan perintah ini. Adakah engkau tidak termasuk ke dalam golongan wanita mukminah?

Ingatlah saudariku, bahwa sesungguhnya keadaanmu yang tidak berjilbab namun masih mengerjakan amalan-amalan lain, adalah seperti orang yang membawa satu kendi penuh dengan kebaikan akan tetapi kendi itu berlubang, karena engkau tidak berjilbab. Janganlah engkau sia-siakan amal shalihmu disebabkan orang-orang yang dengan bebas di setiap tempat memandangi dirimu yang tidak mengenakan jilbab. Silakan engkau bandingkan jumlah lelaki yang bukan mahram yang melihatmu tanpa jilbab setiap hari dengan jumlah pahala yang engkau peroleh, adakah sama banyaknya?
2. “Iman kan letaknya di hati. Dan yang tahu hati seseorang hanya aku dan Allah.”
Duhai saudariku…Tahukah engkau bahwa sahnya iman seseorang itu terwujud dengan tiga hal, yakni meyakini sepenuhnya dengan hati, menyebutnya dengan lisan, dan melakukannya dengan perbuatan?
Seseorang yang beramal hanya sebatas perbuatan dan lisan, tanpa disertai dengan keyakinan penuh dalam hatinya, maka dia termasuk ke dalam golongan orang munafik. Sementara seseorang yang beriman hanya dengan hatinya, tanpa direalisasikan dengan amal perbuatan yang nyata, maka dia termasuk kepada golongan orang fasik. Keduanya bukanlah bagian dari golongan orang mukmin. Karena seorang mukmin tidak hanya meyakini dengan hati, tetapi dia juga merealisasikan apa yang diyakininya melalui lisan dan amal perbuatan. Dan jika engkau telah mengimani perintah jilbab dengan hatimu dan engkau juga telah mengakuinya dengan lisanmu, maka sempurnakanlah keyakinanmu itu dengan bersegera mengamalkan perintah jilbab.
3. “Aku kan masih muda…”
Saudariku tercinta… Engkau berkata bahwa usiamu masih belia sehingga menahanmu dari mengenakan jilbab, dapatkah engkau menjamin bahwa esok masih untuk dirimu? Apakah engkau telah mengetahui jatah hidupmu di dunia, sehingga engkau berkata bahwa engkau masih muda dan masih memiliki waktu yang panjang? Belumkah engkau baca firman Allah ‘Azza wa Jalla yang artinya,
“Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, jika kamu sesungguhnya mengetahui.” (Qs. Al-Mu’minuun: 114)
“Pada hari mereka melihat adzab yang diancam kepada mereka, (mereka merasa) seolah-olah tidak tinggal (di dunia) melainkan sesaat pada siang hari. (Inilah) waktu pelajaran yang cukup.” (Qs. Al-Ahqaaf: 35)
Tidakkah engkau perhatikan tetanggamu atau teman karibmu yang seusia denganmu atau di bawah usiamu telah menemui Malaikat Maut karena perintah Allah ‘Azza wa Jalla? Tidakkah juga engkau perhatikan si fulanah yang kemarin masih baik-baik saja, tiba-tiba menemui ajalnya dan menjadi mayat hari ini? Tidakkah semua itu menjadi peringatan bagimu, bahwa kematian tidak hanya mengetuk pintu orang yang sekarat atau pun orang yang lanjut usia? Dan Malaikat Maut tidak akan memberimu penangguhan waktu barang sedetik pun, ketika ajalmu sudah sampai. Setiap hari berlalu sementara akhiratmu bertambah dekat dan dunia bertambah jauh. Bekal apa yang telah engkau siapkan untuk hidup sesudah mati? Ketahuilah saudariku, kematian itu datangnya lebih cepat dari detak jantungmu yang berikutnya. Jadi cepatlah, jangan sampai terlambat…
4. “Jilbab bikin rambutku jadi rontok…”
Sepertinya engkau belum mengetahui fakta terbaru mengenai ‘canggih’nya jilbab. Dr. Muhammad Nidaa berkata dalam Al-Hijaab wa Ta’tsiruuha ‘Ala Shihhah wa Salamatus Sya’ri tentang pengaruh jilbab terhadap kesehatan dan keselamatan rambut,

“Jilbab dapat melindungi rambut. Penelitian dan percobaan telah membuktikan bahwa perubahan cuaca dan cahaya matahari langsung akan menyebabkan hilangnya kecantikan rambut dan pudarnya warna rambut. Sehingga rambut menjadi kasar dan berwarna kusam. Sebagaimana juga udara luar (oksigen) dan hawa tidaklah berperan dalam pertumbuhan rambut. Karena bagian rambut yang terlihat di atas kepala yang dikenal dengan sebutan batang rambut tidak lain adalah sel-sel kornea (yang tidak memiliki kehidupan). Ia akan terus memanjang berbagi sama rata dengan rambut yang ada di dalam kulit. Bagian yang aktif inilah yang menyebabkan rambut bertambah panjang dengan ukuran sekian millimeter setiap hari. Ia mendapatkan suplai makanan dari sel-sel darah dalam kulit.

Dari sana dapat kita katakan bahwa kesehatan rambut bergantung pada kesehatan tubuh secara umum. Bahwa apa saja yang mempengaruhi kesehatan tubuh, berupa sakit atau kekurangan gizi akan menyebabkan lemahnya rambut. Dan dalam kondisi mengenakan jilbab, rambut harus dicuci dengan sabun atau shampo dua atau tiga kali dalam sepekan, menurut kadar lemak pada kulit kepala. Maksudnya apabila kulit kepala berminyak, maka hendaklah mencuci rambut tiga kali dalam sepekan. Jika tidak maka cukup mencucinya dua kali dalam sepekan. Jangan sampai kurang dari kadar ini dalam kondisi apapun. Karena sesudah tiga hari, minyak pada kulit kepala akan berubah menjadi asam dan hal itu akan menyebabkan patahnya batang rambut, dan rambut pun akan rontok.” (Terj. Banaatunaa wal Hijab hal. 66-67)
5. “Kalau aku pakai jilbab, nanti tidak ada laki-laki yang mau menikah denganku. Jadi, aku pakai jilbabnya nanti saja, sesudah menikah.”
Wahai saudariku… Tahukah engkau siapakah lelaki yang datang meminangmu itu, sementara engkau masih belum berjilbab? Dia adalah lelaki dayyuts, yang tidak memiliki perasaan cemburu melihatmu mengobral aurat sembarangan. Bagaimana engkau bisa berpendapat bahwa setelah menikah nanti, suamimu itu akan ridha membiarkanmu mengulur jilbab dan menutup aurat, sementara sebelum pernikahan itu terjadi dia masih santai saja mendapati dirimu tampil dengan pakaian ala kadarnya? Jika benar dia mencintai dirimu, maka seharusnya dia memiliki perasaan cemburu ketika melihat auratmu terbuka barang sejengkal saja. Dia akan menjaga dirimu dari pandangan liar lelaki hidung belang yang berkeliaran di luar sana. Dia akan lebih memilih dirimu yang berjilbab daripada dirimu yang tanpa jilbab. Inilah yang dinamakan pembuktian cinta yang hakiki!
Maka, jika datang seorang lelaki yang meminangmu dan ridha atas keadaanmu yang masih belum berjilbab, waspadalah. Jangan-jangan dia adalah lelaki dayyuts yang menjadi calon penghuni Neraka. Sekarang pikirkanlah olehmu saudariku, kemanakah bahtera rumah tanggamu akan bermuara apabila nahkodanya adalah calon penghuni Neraka?
6. “Pakai jilbab itu ribet dan mengganggu pekerjaan. Bisa-bisa nanti aku dipecat dari pekerjaan.”
Saudariku… Islam tidak pernah membatasi ruang gerak seseorang selama hal tersebut tidak mengandung kemaksiatan kepada Allah. Akan tetapi, Islam membatasi segala hal yang dapat membahayakan seorang wanita dalam melakukan aktivitasnya baik dari sisi dunia maupun dari sisi akhiratnya. Jilbab yang menjadi salah satu syari’at Islam adalah sebuah penghargaan sekaligus perlindungan bagi kaum wanita, terutama jika dia hendak melakukan aktivitas di luar rumahnya. Maka dengan perginya engkau untuk bekerja di luar rumah tanpa jilbab justru akan mendatangkan petaka yang seharusnya dapat engkau hindari. Alih-alih mempertahankan pekerjaan, engkau malah menggadaikan kehormatan dan harga dirimu demi setumpuk materi.

Tahukah engkau saudariku, siapa yang memberimu rizki? Bukankah Allah -Rabb yang berada di atas ‘Arsy-Nya- yang memerintahkan para malaikat untuk membagikan rizki kepada setiap hamba tanpa ada yang dikurangi barang sedikitpun? Mengapa engkau lebih mengkhawatirkan atasanmu yang juga rizkinya bergantung kepada kemurahan Allah?
Apakah jika engkau lebih memilih untuk tetap tidak berjilbab, maka atasanmu itu akan menjamin dirimu menjadi calon penghuni Surga? Ataukah Allah ‘Azza wa Jalla yang telah menurunkan perintah ini kepada Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam yang akan mengadzabmu akibat kedurhakaanmu itu? Pikirkanlah saudariku… Pikirkanlah hal ini baik-baik!
7. “Jilbab itu bikin gerah, dan aku tidak kuat kepanasan.”
Saudariku… Panas mentari yang engkau rasakan di dalam dunia ini tidak sebanding dengan panasnya Neraka yang akan kau terima kelak, jika engkau masih belum mau untuk berjilbab. Sungguh, dia tidak sebanding. Apakah engkau belum mendengar firman Allah yang berbunyi,
“Katakanlah: ‘(Api) Neraka Jahannam itu lebih sangat panas. Jika mereka mengetahui.’” (Qs. At-Taubah: 81)
Dan sabda Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam yang artinya,
“Sesungguhnya api Neraka Jahannam itu dilebihkan panasnya (dari panas api di bumi sebesar) enam puluh sembilan kali lipat (bagian).” [Hadits shahih. Riwayat Muslim (no. 2843) dan Ahmad (no. 8132). Lihat juga Shahih Al-Jaami' (no. 6742), dari Shahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu]
Manakah yang lebih sanggup engkau bersabar darinya, panasnya matahari di bumi ataukah panasnya Neraka di akhirat nanti? Tentu engkau bisa menimbangnya sendiri…
8. “Jilbab itu pilihan. Siapa yang mau pakai jilbab silakan, yang belum mau juga gak apa-apa. Yang penting akhlaknya saja benar.”
Duhai saudariku… Sepertinya engkau belum tahu apa yang dimaksud dengan akhlak mulia itu. Engkau menafikan jilbab dari cakupan akhlak mulia, padahal sudah jelas bahwa jilbab adalah salah satu bentuk perwujudan akhlak mulia. Jika tidak, maka Allah tidak akan memerintahkan kita untuk berjilbab, karena dia tidak termasuk ke dalam akhlak mulia.

Pikirkanlah olehmu baik-baik, adakah Allah memerintahkan hamba-Nya untuk berakhlak buruk? Atau adakah Allah mengadakan suatu ketentuan yang tidak termasuk dalam kebaikan dan mengandung manfaat yang sangat besar? Jika engkau menjawab tidak ada, maka dengan demikian engkau telah membantah pendapatmu sendiri dan engkau telah setuju bahwa jilbab termasuk ke dalam sekian banyak akhlak mulia yang harus kita koleksi satu persatu. Bukankah demikian?
Ketahuilah olehmu, keputusanmu untuk tidak mengenakan jilbab akan membuat Rabb-mu menjadi cemburu, sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda yang artinya,
“Sesungguhnya Allah itu cemburu dan seorang Mukmin juga cemburu. Adapun cemburunya Allah disebabkan oleh seorang hamba yang mengerjakan perkara yang diharamkan oleh-Nya.” [Hadits shahih. Riwayat Bukhari (no. 4925) dan Muslim (no. 2761)]
9. “Sepertinya Allah belum memberiku hidayah untuk segera berjilbab.”
Saudariku… Hidayah Allah tidak akan datang begitu saja, tanpa engkau melakukan apa-apa. Engkau harus menjalankan sunnatullah, yakni dengan mencari sebab-sebab datangnya hidayah tersebut.

Ketahuilah bahwa hidayah itu terbagi menjadi dua, yaitu hidayatul bayan dan hidayatut taufiq. Hidayatul bayan adalah bimbingan atau petunjuk kepada kebenaran, dan di dalamnya terdapat campur tangan manusia. Adapun hidayatut taufiq adalah sepenuhnya hak Allah. Dia merupakan peneguhan, penjagaan, dan pertolongan yang diberikan Allah kepada hati seseorang agar tetap dalam kebenaran. Dan hidayah ini akan datang setelah hidayatul bayan dilakukan.

Janganlah engkau jual kebahagiaanmu yang abadi dalam Surga kelak dengan dunia yang fana ini. Buanglah jauh-jauh perasaan was-wasmu itu. Tempuhlah usaha itu dengan berjilbab, sementara hatimu terus berdo’a kepada-Nya, “Allahummahdini wa saddidni. Allahumma tsabit qolbi ‘ala dinik (Yaa Allah, berilah aku petunjuk dan luruskanlah diriku. Yaa Allah, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu).”


Penulis: Ummu Sufyan Rahmawaty Woly bintu Muhammad
Murojaah: Ust. Aris Munandar hafidzahullah

20 August 2010

:')

[Message]
Walaupun aku sering marah, aku syg bgt km,
n biar km nya jg dewasa. Hati2 sayang.
[Sender]
^The1AndOnlyTB^

Seketika setelah gue baca sms itu gue nangis loh!. Jujur.., gue terharu. Agak lebay sih emang, apalagi waktu itu gue lagi di angkot. Tapi emang moment dia kirim sms itu pas banget. Jadi begini kronologis ceritanya...

Kemarin pas pulang dari kampus, aa janji mau ngejemput gue di kosan setelah Isya. Tapi karena gue nggak tega karena dia kan lagi puasa, dan baru pulang pagi dari kantor. Dan takut kemaleman, gue mutusin buat janian aja sama dia. Nah, diputuskanlah kita janjian di The Patch Cinere. Tapi, berhubung gue yang kecapean banget, gue tidur di angkot 102. Dan bangun-bangun pas aa nelepon, dan gue udah nerada di Limo. Nah loh..., setelah itu aa marah-marah sama gue. Bla..blaa..blaaa..., nggak tau dia ngomong apa aja. Karena gue jauihin teleponnya. Dan akhirnya gue kesel, dan mutusin. Udah lah, gue pulang sendiri aja kalau gitu.

Pas di perjalanan pulang, baru aja nyampe di parung bingung, tiba-tiba hujan lumayan deres. Gue mampir dulu lah di Alfamart, secara gue laper dan haus. Waktu itu jam setengah tujuhan gue ada di sana. Dan sampe hujan reda, gue naik angkot 03. Dia angkot gue udah cemas, takut. Gue pulang malem, udah itu gue penumpang cewe sendiri. Dan penumpang yang lainnya tuh mukanya pada kayak preman. Nah gue mikir, sedih juga masa sih aa tega ngebiarin gue pulang sendiri. Padahal kan tempat gue sekarang ggak jauh dari rumahnya. Gue udah sedih banget. Nah pas saat ini lah dia sms gue kayak gitu. Huaaaaa....., gue terharu dan langsung mikir kalau dia juga sayang dan khawatir sama gue. Beberapa saat setelah itu dia nelepon. Dan tiap 10 menit sekali dia nelepon sampe pastiin gue udah sampe di rumah atau belum.

Sesampainya di rumah, sebelum gue beranjak ke tempat tidur, gue nelepon dia. Terjadilah percakapan seperti ini..
neng : "Makasih yah udah khawatirin aku. Aku tau kok, walaupun kamu sok galak tapi galaknya pake cinta kan?. Aku nangis loh tadi di angkot baca sms itu. Hahaha lebay yah.."
aa"Hah? sms apaan? yang mana?. Bukan aku kali tuh yang sms. Atau nggak aku gak sadar pas sms itu".
neng : "Halaah, bisa aja lu yang. Kebiasaan deh gak romantisnya keluar".
aa : "Hehe, iyah sayang. aa kan sayang banget sama neng".
neng : "Neng juga..."

Hihi, senengnya sama sifat dia. Dia emang nggak pernah nunjukkin romantisnya dia, perhatiannya dia di depan orang banyak. Tapi dia selalu berusaha nunjukkin sesuatu yang spesial khusus hanya gue yang tahu dan ngerasain. Aku sayang kamu calon suamiku :')

15 August 2010

Alasanku..

Lagu ini ku persembahkan untukmu Tubagus Angga Permana...




Aku telah salah...
Ragukan niatmu
Akulah lelaki...
Dengan jiwa bocah
Mencoba dewasa
Mencoba berubah
Mohon dampingilah
Jangan tinggalkan
Hooo...
Tak terbayangkan
Jika kau pergi...
Kau alasanku untuk dewasa
Dan aku tak ingin kau terluka
Segenap jiwa akan ku jaga
Keindahanmu

Menepis sejenak denganku
Bahagia slamanya denganku...
Kau alasanku untuk dewasa
Dan aku tak ingin kau terluka
Segenap jiwa akan ku jaga
Keindahanmu

Keindahan mu...
 
Alasanku - Sheila On 7

Setahun berhijab

Alhamdulillah...
Nggak kerasa gue udah satu tahun memakai jilbab. Semoga saja, Allah selalu meneguhkan hati gue untuk selalu memakai jilbab. Walaupun cobaan dan godaan setelah memakai jilbab itu cukup banyak, semoga gue bisa melaluinya..

Awal gue memutuskan untuk memakai jilbab adalah ketika gue diterima di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Sebelumnya, gue emang niat kalau diterima di Universitas Negeri, gue akan memakai jilbab. Selain itu juga gue mendapatkan banyak motivasi, terutama dari papa. Setiap hari, dia sabar sampe bebrusa kali yah nyuruh gue pake jilbab. Katanya, anak perempuan itu bagai berlian bagi orang tuanya. Makanya dia mau banget gue menutup auratnya dan nggak mau anaknya pake baju-baju aneh dan sexy kayak di sinetron. Orangtua gue memang orang yang mengajarkan kalau anak-anaknya harus menjunjung tinggi nilai-nilai agama. Karena keimanan adalah diatas segalanya. Dia juga bilang, jilbab itu bukan sekedar aksesoris. Tapi memang kewajiban seluruh Muslimah untuk memakai jilbab. Papa selalu ngingetin gue akan ayat Qur'an dibawah ini:

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (QS. An-Nur : 31)

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Ahzab : 59)

Selain itu, papa juga bilang ke gue saat itu. Dia bilang gini.. "Lulus dengan nilai tertinggi udah, masuk universitas negeri udah, punya pacar yang serius udah, sembuh dari penyakit kamu dari kecil udah, sekarang tinggal apalagi?. Sempurnakanlah diri kamu sebagai perempuan di hadapan Allah" . Maka dari itu lah gue menyiapkan diri dan memulai memakai jilbab.

Gue mengakui, diri gue belum sempurna dalam berjilbab. Dalam arti, kadang gue belum memakai pakaian dan memakai jilbab yang seharusnya dipakai oleh Muslimah yang sesungguhnya. Dan dalam sikap gue juga, gue belum bisa anggun, diam, dan manis. Karena sifat gue sesungguhnya memang jauh dari kata anggun, gue masih suka main sama cowok, masih suka bercanda sama temen-temen gue, masih suka nge-gosip, cuek lah, dll. Tapi itulah manusia, nggak ada yang sempurna. Tapi gue selalu berusaha untuk menjadi orang yang lebih baik untuk kedua orangtua gue, keluarga, teman-teman, dan pacar. Semoga gue bisa menjadi Muslimah yang sholehah, seperti yang diharapkan oleh kedua orangtua gue dalam setiap bait doanya. Dan Muslimah yang senantiasa dicintai oleh Allah SWT.
Amien.

14 August 2010

Describe me please hun..

Beberapa hari yang lalu, setelah aa nganterin gue ke Blok M buat nganterin egg roll ke beberapa toko kue disana, dan sekalian nganterin gue beli sepatu dan celana jeans baru hasil beasiswa gue, di perjalanan pulang sambil boncengan motor kita ngobrol banyak hal. Mulai dari yang lucu, aneh, bahkan sampe ada ngambek-ngambekan. Terus ada satu pertanyaan dia yang bikin gue mikir panjang banget karena bingung mau jawab apa. Begini percakapannya

aa : "Neng, coba neng describe aa dalam satu kata. Misalnya apa.. 3 kata deh boleh maksimal. Ga boleh mikir.. Tet! Jawab!"
neng : "Hhhhhhmmmmm....." (mikir lama)
aa : "Aaah ayo dong cepetang ga boleh mikir, yang terlintas di pikiran aja. Serius ga boleh bercanda!"
neng : "Apa yah? Takut kamu minder yang..."
aa : "Apa? Ah ngatain ah pasti. Auk!"
neng : "Bulat, Besar, Bantet"
aa : "Ah tuh kan males ah, ngatain.. Astagfirullah.."
neng : "Abis kan yang terlintas di pikiran. Coba aa klo describe neng"
aa : "Manis, Lucu.. Ayo dong, apa gitu aa describenya.. wangi, ngangenin, bersih, gitu contohnya" (dengan nada maksa)
neng : "Amit deh lu yang kepedean!. Haha.. apa yaang aa bagusnya??" (mikir lama)
aa : "Ayoo doong. Huhuhuuu.." (manja)
neng : "Ah gak tau aah ntar aja. Males ntar aa nya ke ge-er an. Terus belagu. Ah males!"
aa : "Aaaah.. huhuhu"
neng : "Charming" (ngomongnya sambil malu-malu)
aa : "Tuh kan.. aa itu emang menarik sih orangnya.."
neng : "Ah malesin kan ke ge-er an"
aa : "Maaciih yah neng sayang. Muach"
neng : "Hoaammcchh.. Iya."

A sayang.., sebenernya banyak banget yang pengen neng katakan tentang aa. Tapi neng emang nggak bisa dan bingung gimana caranya buat describe aa. Emang sih aa itu kadang ganjen, ngeselin, egois, tukang marah-marah, sensi, jelek, susah nggak mau diatur, cuek, nggak romantis, bawel, tukang ngatur, ribet, dll. Tapi dibalik itu semua, neng tau dan neng ngerasain sendiri bahwa masih ada jutaan sifat aa yang baik. Nggak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Makanya, neng masih nerima aa apa adanya sampai sekarang ini. Dan jujur, neng nggak bisa describe aa dengan kata-kata. Karena neng emang bingung mau bilang aa itu seperti apa orangnya. Neng nggak bisa ngebayanginnya. Karena banyak banget yang neng rasain tentang aa. Mungkin mendeskripsikan aa itu seperti apa sama aja kayak neng mendeskripsikan kata "CINTA".

11 August 2010

I miss you Amih..

Ramadhan akhirnya datang. Banyak hal-hal yang gue rindukan di bulan Ramadhan ini. Apalagi suasana Ramadhan saat gue kecil dulu, suasana Ramadhan di Bandung. Gue emang sejak SD tinggal di Jakarta, dan kelas 4 SD mulai tinggal di Depok. Tapi, selama Ramadhan biasanya gue selalu menghabiskannya di Bandung. Gue selalu mudik duluan tanpa mama papa di awal bulan Ramadhan. Saat kecil dulu, gue senang menikmati bulan Ramadhan di Bandung karena banyak saudara-saudara gue, suasananya yang sejuk, makanan yang dibuat Bi Neng selalu enak dan gue juga mendapatkan kehangatan kasih sayang dari Amih.

Setiap gue tiba di Bandung, amih selalu bikin makanan kesukaan gue dan papa mama. Dia pasti nyiapin semur jengkol buat papa, dan kalau gue gue suka makan dendeng (tapi sekarang, gue mulai suka jengkol loh :p). Dan kegiatan Ramadhan disana macem-macem. Gue ikutan pengajian, sholat tarawih di gedung serba guna. Dan yang paling gue suka adalah bikin kue kering. Hhhmm, gue paling semangat di kegiatan ini. Apalagi kalau bikin kue kering favorit gue kastangels dan putri salju. Gue bisa minta dibikinin bertoples-toples buat 2 jenis kue itu. Selain itu, tiap Ramadhan disana juga gue biasa ikutan ke pasar setiap pagi sama Bi Neng. Dan sore nya biasanya ngabuburit. Oh iya, tarawih disana juga beda loh!. Soalnya ceramahnya itu pake Bahasa Sunda. Sebagai orang sunda 100% ASLI sih abdi mah tiasa nyarios sareng ngartos pisan lah Basa Sunda. Hehe

Tapi, diantara semua itu yang paling gue kangenin adalah sholat berjamaah bareng amih dan adit. Biasanya, habis sholat berjamaah kita berdoa bareng. Oooh.., I really miss that moment!. Amih selalu berdoa yang terbaik buat kita cucu-cucu nya. Lalu, kalau gue dan Adit mau tidur pasti selalu dikelonin sama amih.

Di malam takbiran, adalah malam yang paling gue rindukan suasananya. Makanya setiap malam takbiran gue terkadang selalu nangis inget amih. Gue selalu inget suasana malam takbiran sama dia. Saat satu rumah sibik dan gue ikutan sibuk bikin ketupat, biasanya gue dapet bagian masukin beras ke dalam ketupat. Sementara yang lainnya masak opor dan gulai kambing. Setelah ketupat mateng, gue paling suka ngegantungin ketupatnya di rumah wetan. Waktu itu kan gue belom nyampe, jadi masangin ketupatnya sambil loncat-loncat. Kalau semuanya udah beres, gue suka ikutan ke masjid buat mukulin bedug. Aaaah..., ngangenin banget suasananya... Oh iya, pernah waktu malam takbiran kapan, gue ngeliat penampakan gitu. Gue ngeliat sesosok mirip amih. Entah itu halusinasi gue atau apa. Tapi gue yakin itu cuman jin yang menyerupai dia, nggak mungkin lah seseorang yang udah meninggal bisa hadir kembali. Kalau sesosok macan sih udah biasa gue liat di rumah Bandung atau di rumah gue sendiri..

Lalu, saat hari raya nya gue selalu sholat Ied disamping dia. Saat perjalanan ke tempat sholat Ied gue juga selalu dituntun sama Amih. Saat sholat Ied di Bandung beberapa tahun lalu, gue sempet nangis pas salam-salaman sama warga disana. Biasanya gue kan nggak mau nangis sampe air mata dan ingus gue keluar. Abisnya gak mau kan gue keliatan jelek. Hehe. Tapi waktu gue salaman sama tetangga gue di Bandung dan dia Bilang, "Neng Nenden atos ageung ayeuna. Coba kalau Amih masih ada..". Langsung gue nangis saat itu juga, inget sama kata-kata amih kalau nanti gue wisuda dia pasti dateng. Dan sekarang pun saat gue menulis ini, tanpa kerasa air mata gue turun..

Gue dan amih memang deket banget. Mungkin lebih deket daripada gue sama mama. Maklum, saat gue kecil gue lebih sering sama amih dibandingin mama. Dulu mama kan wanita karir yang super sibuk. Walaupun dulu amih juga sibuk, karena profesinya guru. Dan kepala sekolah di SD Negeri di daerah Cikadut. Tapi jadwal kerja amih nggak se-padat mama. Jadi gue lebih sering sama amih. Dan ikut amih kerja, karena tempat kerja amih lebih deket dari rumah daripada tempat kerja mama yang jauh-jauh..


Amih..
Teteh sono ka amih..

10 August 2010

Marhaban Ya Ramadhan



MARHABAN
YA
RAMADHAN


Selamat datang bulan Ramadhan, bulan yang ditunggu-tunggu oleh seluruh umat Islam di dunia. Bulan yang penuh berkah dan suci..

Dalam menyambut bulan Ramadhan ini, sebelum habluminallah kita jalani. Terlebih dulu kita selesaikan habluminannas kita. maka dari itu, saya meminta maaf kepada semua orang atas segala kesalahan saya yang pernah saya perbuat secara sengaja maupun tidak sengaja..

[49:10] Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.



[49:11] Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri1410 dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman1411 dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.


[49:12] Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.


Selamat menunaikan ibadah puasa...

9 August 2010

2 Years 9 Months


I love you too my buff..
Nothing gonna change my love for you
I'll always beside you till the end of my life
I promise..

6 August 2010

Nikah muda?

Semalem, gue bersama keluarga gue merencanakan rencana keluarga kita mendatang. Rencananya, papa mau ngejual rumah yang kita tempatin sekarang. Karena papa mau menghabiskan masa tuanya di Bandung. Dan alasan utamanya sih papa udah nggak sreg sama lingkungan disini yang kurang kekeluargaannya. Maklum lah tetangga-tetangga gue orang sibuk dan secara finansial mereka diatas garis normal. Dan suasana komplek gue yang mulai ramai, bikin papa nggak tenang. Dan Insya Allah, setelah lebaran papa ditempatin di Sulawesi untuk ngurusin proyek kantornya.

Saat bicara tentang kepindahan kita yang nantinya ke Bandung setelah rumah laku terjual. Mama dan papa membicarakan tentang kuliah gue dan dengan siapa gue tinggal. Nggak mungkin kan mama papa melepas anak gadis nya begitu aja. Nah, pertanyaan papa yang bikin gue shock sampe gue nulis postingan ini pun gue masih gemeter. Papa nanya, "Kapan A Angga siap nikahin kamu?. Daripada nanti kamu sendiri disini, atau mama harus ngontrak nemenin kamu mending kamu papa nikahin aja sama aa".

WHAT?!. Gue bingung, terus gue sms aja A Angga. Tapi, gue jawab pertanyaan papa kalau gue belum siap untuk menikah muda. Papa tahu kalau cita-cita gue itu banyak. Gue mau berkarier, gue mau kuliah. Tapi papa bilang, kalau sambil nikah itu juga bisa gue jalanin. Dan orangtua gue akan membiayai biaya pendidikan gue. Lalu, A Angga nelepon gue. Dan dia bilang dia mau ngebicarain hal ini sama keluarganya dulu. Dia juga nanyain, apakah keluarga gue mau menerima dia yang belum bertitel sarjana. Karena A Angga kan masih kerja sambil kuliah. Dan keluarga gue nggak mempermasalahkannya, semasih pria yang menikahi gue itu mampu memberikan nafkah. Gue sih antara mau nikah muda, tapi gue juga nggak siap. Memang sih, nikah itu ibadah. Dan kita juga nggak boleh menunda ibadah. Tapi, berdasarkan pelajaran Fiqh Munakahat yang gue pelajarin semester lalu, hukum nikah itu berbeda-beda, seperti:

1. Jaiz, (diperbolehkan), ini asal hukumnya.
2. Sunat, bagi orang yang berkehendak serta mampu memberi nafkah dan lain-lainnya
3. Wajib, bagi orang yang mampu memberi nafkah dan dia takut akan tergoda pada kejahatan (zina).
4. Makruh, bagi orang yang tidak mampu memberi nafkah.
5. Haram, bagi orang yang berniat akan menyakiti perempuan yang dinikahinya

Dan mungkin hukum nikah bagi kita itu masih sunah. Karena aa sudah mampu memberikan nafkah, tapi Alhamdulillah kita masih bisa menahan godaan-godaan syaitan yang terkutuk.
Tapi, gue juga terbesit pikiran buat nikah muda juga sih. Setelah baca thread ini di kaskus. Tapii..., gue juga masih takut nikah muda. Gue masih mau menikmati masa muda gue. Gue masih mau berpetualangan bersama temen-temen gue. Gue juga belum mau memikirkan masalah yang lebih kompleks. Dan gue juga masih mau fokus terhadap diri gue, dan masa depan gue. Gue juga belum siap jika harus setiap hari melayani suami gue. Ngurus diri sendiri aja masih suka ribet dan butuh mama, apalagi gue ngurusin orang lain.

Tapi gue juga nggak bisa nolak, kalau kedua orangtua gue dan aa menyepakati hal tersebut. Mungkin pilihan orangtua itu yang terbaik untuk gue. Dan kalau semua ini dulakuin dengan niat yang baik, Insya Allah gue siap. Tapi, semoga aja A Angga bisa menolak tawaran papa itu secara baik. Dan gue bisa menikah saat gue siap nanti (siapnya kalau udah mampu beli rumah sendiri :p)

4 August 2010

Antara aku, Sastra, dan Bahasa Inggris

Banyak orang yang bertanya kepada saya mengapa saya memilih Sastra Inggris, sebagai jurusan saya di universitas. Saya ingin menjawab karena kepeleset, memang benar. Saya memang terpeleset. Karena Sastra Inggris adalah pilihan terakhir saya dari semua jurusan yang saya pilih. Saya mencoba jurusan Arsitektur, Hubungan Internasional, dan Sastra Inggris di semua Universitas Negeri yang tersedia di Jakarta. Tapi jika dipikir lagi, alasan saya yang 'terpeleset' ke Sastra Inggris kuranglah logis. Saya tidak terpeleset, karena Sastra Inggris adalah pilihan saya. Buktinya, saya memilih Sastra Inggris walaupun sebagai pilihan terakhir. Tentu saja, hal yang saya pilih itu tetap saya pertimbangkan sebelumnya.

Alasan saya memilih Sastra Inggris adalah karena kecintaan saya terhadap negara Inggris (United Kingdom). Awal kecintaan saya pada negara ini adalah sistem politiknya yang mempelopori negara-negara lain menganut sistem parlementer. Inggrislah yang pertama kali menciptakan suatu parlemen workable. Artinya, suatu parlemen yang dipilih oleh rakyat melalui pemilu yang mampu bekerja memecahkan masalah sosial ekonomi kemasyarakatan. Melalui pemilihan yang demokratis dan prosedur parlementaria, Inggris dapat mengatasi masalah sosial sehingga menciptakan kesejahteraan negara (welfare state). Tetapi, negara Inggris tetaplah menerapkan sistem kerajaan dalam menjalankan negaranya. Jadi, pemerintahan di Inggris dipimpin oleh seorang perdana menteri. Dan negara tetap dipimpin oleh seorang Ratu. Selain itu, kecintaan saya terhadap Inggris karena saya menyukai wisata. Dan saya lihat keindahan tempat-tempat di Inggris. Itulah awal saya mencintai negara Inggris.

Sastra.., saya kurang tahu kenapa saya menyukai sastra. Padahal, waktu SMA duku nilai Sastra Indonesia saya tidak pernah bagus. Saat disuruh membuat gurindam saja, saya malah membuat pantun. Dan majas-majas pun saya tidak pernah hafal. Tapi, saya bisa menulis puisi dan juga cerpen. Saya juga selalu mewakili sekolah saya dalam mengikuti lomba membaca puisi. Yah kelebihan saya di bidang sastra memang kecil. Tapi, saya akan berusaha meningkatkan kemahiran saya dan juga kecintaan saya terhadap sastra.

Bahasa Inggris.., jujur, saya memang sangat menyukai Bahasa Inggris sejak saya kecil. Sejak TK, saya meminta dibelikan buku Bahasa Inggris. Dan saya selalu mengikuti tetangga saya belajar Bahasa Inggris, sejak saya pindah ke Jakarta. Kemampuan saya yang sudah bisa membaca sejak saya masuk TK, membuat saya cepat belajar Bahasa Inggris. Dan itu terbukti sampai saya SMA. Nilai Bahasa Inggris saya selalu diantara angka 8 atau 9. Tapi, walaupun nilai saya selalu bagus. Saya tidak pernah mengikuti perlombaan seperti debate atau speech contest. Entah kenapa, saya kurang minat pada hal tersebut. Saya lebih suka mengembangkan Bahasa Inggris saya dengan cara membaca novel dan buku berbahasa Inggris, menonton film, dan mengikuti drama berbahasa Inggris. Dan saya menyadari, saya lebih menyukai Sastra, seperti drama, novel, puisi, dll dalam Bahasa Inggris. Dibandingan dengan Bahasa Inggris secara linguistik.

Jelas sudah alasan saya mengapa saya memilih Sastra Inggris. Semoga saja, ilmu yang saya pelajari sekarang bermanfaat dalam masa depan saya. Sesuai dengan mimpi dan tujuan saya, bekerja di negara Inggris.

3 August 2010

without android

I can't live without my Android..
I MISS YOU MY SMARTPHONE....

Cinta Pertama Part II

Semalem gue keingetan lagi sama si cinta pertama gue. Sampe kebawa mimpi loh!. Mungkinkah gue itu kangen sama dia?. Kalaupun iya gue itu kangen sama dia, tolong jauhkan perasaan itu. Gue nggak mau terperangkap dalam kengangan masa lalu. Masa lalu itu cukuplah gue kenang, gak usah dibawa lagi ke kehidupan sekarang. Apalagi kalau ada perasaan masa lalu yang terbawa, BIG NO!.

Dan pagi ini, gue buka blog, gue menemukan postingan bulan November lalu tentang CINTA PERTAMA gue. Senyam senyum sendiri aja gue baca postingan tersebut. Lucu sama cerita cinta jadul gue itu. Bisa-bisanya dulu gue jatuh cinta sama tipe-tipe cowo bad boy. Yang cuek, gayanya berantakan. Kalo dibandingin sama sekarang mah. Kayaknya bukan tipe cowo gue banget. Kalau sekarang kan gue lebih melirik cowo yang smart, rapi, wangi, dan tampan. Hahaha

Kalau diinget lagi, masa-masa pacaran gue sama si cinta pertama itu paling perfect loh. Tapi dibilang perfectnya pas kita balikan kelas 3 SMP. Walaupun jadiannya dengan cara yang kurang benar. Tapi kita ngelaluinnya dengan perasaan yang mendalam. Hahaseekk.. Dulu, waktu gue pacaran sama si dia, kita itu selalu manggil nama. Nggak ada panggilan sayang kaya sayang, beb, cinta atau apalah. Soalnya kalau manggil nama, biar nama kita selalu terkenang dihati (gombal abis). Dan gue ataupun dia nggak pernah selingkuh, atau punya hubungan lain. Nggak tau kenapa, gue yang biasanya 'iseng' saat itu jadi setia. Eh tapi, sekarang juga setia kok. Nggak pernah 'iseng', :p

Masih berhubungan dengan cinta pertama, gue teringat sama film Hari Untuk Amanda, di film itu ceritanya tentang seorang cewe yang udah mau nikah. Tapi dia terjebak perasaan sama cinta pertamanya. Dan cinta pertamanya itu juga ternyata masih sayang sama dia. Dan satu hari, mereka nikmatin hanya berdua. Mengenang kenangan masa lalu, jalan-jalan berdua, dan sampai akhirnya di ujung cerita cewe itu bingung. Haruskah dia kembali ke cinta pertamanya, atau ngelanjutin hubungannya sama pacarnya itu ke jenjang pernikahan. Dan akhirnya, dia milih pacarnya itu dan tetep ngelanjutin pernikahan. Wow, ceritanya bikin gue surprise banget. Dan mikir, kalau memilih suatu jalan percintaan. Jangan cuman menggunakan emosi sesaat, perasaan sesaat. Tapi juga mempertimbangkan apa yang nanti kita hadapi. Dan intinya, masa lalu seindah apapun harus kita tinggalkan dan kita simpan. Karena kita hidup untuk masa depan, dan jangan pernah sia-sia in apa yang kita miliki sekarang..

1 August 2010

My Dreamland UK


Semalem, gue mimpi berada di suatu tempat yang asing banget buat gue. Gue disana bersama seorang anak kecil yang ternyata di mimpi itu adalah anak gue. Dan ternyata tempat itu adalah London, karena gue ngeliat double decker dan London Bridge di dalam mimpi gue. Yup, setelah bangun dan sadar dari mimpi. Gue berdoa, suatu saat nanti kalau gue udah lulus S1, gue harus bisa kesana. Mimpi itu pun gue ceritain ke mama, mama bilang.. Semoga aja nanti gue bisa kerja di kedutaan Indonesia di London, atau gue bisa ngambil beasiswa S2 disana, Amien.
Mimpi itu masih kebayang-bayang di pikiran gue sampai sekarang. Gue pengen banget ke UK, United Kingdom. Nggak cuman ke Inggris nya doang. Mungkin banyak orang yang belum tau kalau UK sama England itu beda. UK terdiri dari England, Northern Ireland, Scotland, dan Wales. Gue pengen banget ngelilingin UK. Loncat dari negara ke negara lainnya di UK. Apalagi setelah lihat foto tetangga-tetangga gue yang ambil S2 bahkan S3 disana. Rasanya irii banget, mauu!!. Dan waktu salah satu tetangga gue itu pulang kesini, dia cerita pengalamannya di London. kebetulan dia tinggal di England. Katanya kalau bulan Ramadhan disana, siangnya lama banget. Maghrib jam setengah 8 malem, Isya jam 11 malem, dan subuh jam 3 pagi. Hihi, malem disana sebentar banget!. Gue jadi penasaran dan tambah mau kesana. Nggak cuman ke England nya doang. Tapi ke UK!!
Kalau yang mau tau keindahan UK, gue kasih beberapa foto tempat yang pengen banget gue kunjungin disana, foto-foto yang baru bisa gue dapetin dari google. Karena gue belum pernah kesana, jadi belum bisa ngasih foto-foto aslinya. Hehe

Northern Ireland
Double Decker Hybrid in London

London Bridge, England
Edensor Village, England
Urquhart Castle, Scotland
Durham Cathedral, England

Sheffield Park House, England

Wales


Gambar-gambar diatas adalah beberapa tempat di UK yang pengen banget gue kunjungi. Sebenernya masih banyak tempat kayak Buckingham Palace, Manchaster, dll. Tapi tempat yang pengen banget gue kunjungin adalah Edensor village. Desa nya indaaaah banget. Walaupun menurut gue suasananya agak gothic, tapi desanya itu indah banget. Ngebayangin musim semi dan gugur disana indah banget kali yah. 
Terus, gue mau nyobain naik double decker di London. Sejak 2008 lalu, double decker di UK ngegunain teknologi hybryd yang ramah lingkungan. Hmmm, terakhir naik double decker kayaknya waktu gue masih kecil deh. Naik bis patas di tanjung priok. Hehe
Gue juga mau nyobain ke baker street, kali aja gue ketemu sama sherlock holmes. Hihihi, gue kan Irene Adler :p Terus jangan lupa ke durhan cathedral alias Hogwarts! Yup tempat ini adalah lokasi syutingnya Harry Potter. Terus gue juga mau ke scotland dan northern ireland. Yang pastinya gak kalah indahnya sama England. Dan jangan lupa juga ke Wales!.
UK..ohhh.. UK...
kugantungan cita-cita dan mimpiku disana, semoga aja suatu saat nanti gue bisa kesana, menetap disana, dan kerja di kedutaan Indonesia untuk Inggris di London. Amieenn...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...